Seragam untuk Bapak
"Bapak nggak
usah pulang ke rumah, balik aja lagi ke kota!"
Wajah Asih cemberut.
Pak Narto mendekati anaknya, ia usap kepala Asih yang menepis tangannya pelan
sambil menggeleng menahan tangis.
"Loh bapak ini
sengaja pulang minta ijin ya hanya karena lusa kamu nerima rapor kata
ibumu."
"Iyaaa tapi
Bapak harus pake seragam!"
"Seragam?
Seragam apa nak?" Narto menoleh menatap Bu Siti istrinya yang hanya bisa
mengedikkan bahunya.
.
.
.
"Kamu kenapa
Asih? Cemberut aja tiap aku ke sini dua hari ini, diajak main juga nggak
mau."
Tanti yang siang itu
menemani Asih duduk di depan teras rumahnya yang berupa bangunan sederhana
hanya diam meremas ujung roknya yang warnanya mulai pudar.
"Aku nggak mau
diledek Dina lagi, kan lusa kita terima rapor, dulu waktu kelas tiga bapakku
ambil rapor diledekin sama Dina, katanya bapakku bajunya paling kumal, jelek,
bau, dan baju ibu-bapak teman kita lainnya kan bagus-bagus, pada pake seragam
kantor."
"Loh Dina kok
tahu kalo baju bapak kamu jelek?"
"Kan banyak
teman kita yang ada di sekolah waktu terima rapor, meski yang nerima orang
tuanya tapi mereka pada nunggu di luar kelas, jadi aku nggak mau bapak ke
sekolah kalo nggak pake seragam, aku nggak mau diledek lagi."
Dan suara Asih sudah
menahan tangis.
"Bukan cuman
Dina yang ngeledek aku, banyak, aku kan jadi malu, pokoknya aku nggak mau bapak
ke sekolah kalo nggak pake seragam kantor."
"Bapak kamu kan
pemulung ya? Ato petugas kebersihan? Ya pake aja seragam itu, ato memang gak
punya seragam kantor bapak kamu."
"Aku nggak mau bapak
pake seragam kebersihan kan ada tulisannya di belakang kaos bapak, nggak ah."
"Loh trus
gimana caranya?"
"Ya cari
pinjaman sana!"
"Yah, kamu ini
nggak kasihan bapak kamu, kalo bapakku kan guru SD ya pasti pake seragam kan,
jadi dia ambil raporku dulu baru bapak ke sekolah tempat dia ngajar."
"Pinjam seragam
bapakmu dong Tanti."
"Ya kebesaran
lah, bapakku kan gendut, sedang bapak kamu kurus."
.
.
.
"Buk, seragam
gimana maksud si Asih? Mana pernah aku pakai seragam? Kerja juga tenaga
kebersihan, pake kaoslah, seragam ya hanya dulu waktu sekolah itupun cuman
sampe SMP saja aku sekolah Bu."
Bu Siti menghela
napas, ia menatap suaminya yang mulai menghabiskan kopinya.
"Aku sempat
dengar tadi waktu Asih ngobrol sama Tanti di teras, dia malu Pak karena Bapak
nggak pake seragam kayak orang tua teman-temannya, dia diledekin siapa
katanya."
"Hah! Malu?
Buat apa malu? Kita nggak nyuri, perlu diajarin anak itu, dia ngga tahu
bersyukur meski kita nggak kaya, hidup kita pas-pasan tapi ada yang bisa kita
makan tiap hari, mana anak itu Buk!"
"Paaak, Paaak,
sabaaar, Asih loh masih kelas empat mana ngerti dia pikiran kayak gitu, kita
harus pelan-pelan nasehatin dia, kalo bisa kita minta bantuan gurunya,
anak-anak kan lebih patuh sama gurunya kadang dari pada kita."
Pak Narto masih
terlihat kesal, ia masih saja mendengkus berkali-kali.
"Nggak usah
minta bantuan siapa-siapa kayak kita orang tuanya gak bisa nasehatin aja, anak
itu kok nggak sama kayak kakaknya yang nggak macem-macem, nggak bikin susah, nggak
bikin kita mikir dan emosi."
"Nggak usah
banding-bandingin Pak, anak-anak yang lain-lain, kembar aja bisa beda
sifatnya."
.
.
.
"Coba Asih
duduk sini, kata Tanti, mau pinjam seragam untuk bapakmu ya?"
Pak Gandi, bapak
dari Tanti memanggil Asih dengan menepuk kursi di dekatnya. Asih melangkah
pelan dan duduk sambil menunduk.
"Kenapa harus
pakai seragam Asih?"
"Saya nggak mau
diledek lagi Pak."
"Tapi
teman-teman kamu kan sudah tahu pekerjaan orang tua kamu?"
Asih diam, air
matanya mulai menggenang.
"Artinya kamu
akan semakin diledek, ditertawakan juga karena apa? Kamu berbohong, membohongi
orang banyak, membohongi diri kamu sendiri, iya kan?"
Asih mengangguk
pelan, Tanti yang ada di dekatnya hanya menatap wajah temannya dengan ekspresi
kasihan.
"Kamu harusnya
bangga, bapak kamu adalah orang yang mengusahakan agar lingkungan bersih, bapak
kamu petugas kebersihan di kota sana, dan karena ada sampah yang bisa didaur
ulang jadi ya dikumpulkan oleh bapak kamu jadi beliau bukan semata-mata
pemulung. Kalo kamu diledek, lawan ledekan teman-teman kamu dengan rasa bangga
bahwa bapak kamu yang bikin lingkungan bersih, sedang mereka apa yang bisa
mereka lakukan agar lingkungan nggak kotor? Pasti bisanya cuman buang-buang
sampah aja, jadi bapak hanya menyarankan kamu nggak usah maksa bapak kamu pake
seragam, nggak usah malu dan sedih karena bapak kamu nggak punya seragam
kantor."
Lagi-lagi Asih
mengangguk.
"Tapi saya malu
Pak, bapak saya nggak punya baju bagus."
"Baik, ini
bapak punya sesuatu buat bapak kamu, berikan ya nanti sesampainya di rumah,
sebentar bapak ambil."
Tak la muncul Pak
Gandi dan memberikan bungkusan pada Asih.
"Ini berikan
pada bapak kamu, pakai besok pada saat penerimaan rapor."
"Baik Pak,
terima kasih."
"Sudah sana
pulang, nggak usah sedih dan nangis lagi."
.
.
.
"Pak, ini baju
dikasi bapaknya Tanti buat Bapak."
Dan Pak Narto
betul-betul marah, hingga Bu Siti memegang lengannya.
"Sabar Pak,
sabaaaar."
"Anak ini bikin
malu aku Bu, masa sampe pinjam seragam ke orang tua temannya, nggak aku nggak
mau pakai, aku tahu Pak Gandi itu guru SD, lah aku disuruh pake itu nggak
pokoknya."
"Buka dulu
Paaak." Asih mulai menangis.
"Kamu harusnya
bangga pada bapak Sih, meski bapak hanya seperti ini tapi bisa nyekolahkan kamu
dan kakakmu, ini kota besar semua serba mahal, jadi nggak usah pake acara
bohong biar kelihatan kaya, kecil-kecil kok sudah berani bohong."
"Sudahlah Pak
buka aja, buka loh nggak pake tenaga, sini biar aku yang buka." Bu Siti
meraih bungkusan tas kertas coklat lalu ia buka perlahan, terlihat baju batik
lengan panjang yang masih bagus."
"Ini loh Pak,
memang dikasi buat Bapak paling sama bapaknya Tanti."
"Iya gara-gara
anak itu ngadu ke Tanti jadinya Pak Gandi beliin aku baju baru, ada-ada aja,
jadi dengar Asih, hidup itu harus jujur, meski kita dicemooh yang penting kita
nggak nyuri, ngerti!"
"Iya,
Pak."
.
.
.
Keesokan harinya Pak
Narto pulang dengan wajah berseri-seri, ia panggil Asih dan istrinya, ia buka
rapor Asih yang ternyata nilai-nilainya sangat memuaskan.

Selalu suka dengan karya Bu Indra W yang membnggakan
BalasHapus